SINERGI PENDIDIKAN TINGGI VOKASI KEPERAWATAN MELAWAN KANKER ANAK
Dalam rangka memperingati Hari Kanker Anak Sedunia 15 Februari 2026
Setiap tanggal 15 Februari, dunia bersatu memperingati International Childhood Cancer Day (ICCD). Di tahun 2026 ini, tema besar yang diusung adalah “Demonstrating Impact: From Challenge to Change“. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan aksi bagi seluruh elemen kesehatan, termasuk institusi pendidikan keperawatan, untuk mengubah tantangan klinis menjadi perubahan nyata bagi kualitas hidup pejuang kanker cilik.
Tantangan kanker anak di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data nasional, diperkirakan terdapat sekitar 11.000 hingga 12.000 kasus baru kanker anak setiap tahunnya. Kanker sel darah putih (leukemia) menempati urutan tertinggi, diikuti oleh retinoblastoma, osteosarkoma, dan neuroblastoma.
Sayangnya, angka kesembuhan di negara berkembang seperti Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara maju. Hal ini diperburuk oleh masalah keterlambatan diagnosis, akses pengobatan yang belum merata, hingga tingginya angka drop-out pengobatan karena kendala ekonomi maupun psikologis keluarga. Di sinilah “perubahan” harus diupayakan melalui penguatan tenaga kesehatan, khususnya perawat.
Tantangan Pendidikan dan Kurikulum D3/D4 Keperawatan
Bagi mahasiswa Program Studi D3/D4 Keperawatan, tantangan merawat pasien anak dengan kanker memerlukan kompetensi melampaui teknik medis dasar. Kanker pada anak memiliki kompleksitas unik yang berbeda dengan dewasa, baik dari sisi patofisiologi maupun pendekatan psikososialnya.
Dalam Kurikulum D3/D4 Keperawatan, penguasaan asuhan keperawatan anak (Pediatric Nursing) menjadi pilar utama. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk:
- Deteksi Dini: Memahami tanda-tanda waspada (warning signs) kanker pada anak.
- Manajemen Paliatif: Memberikan kenyamanan dan pengelolaan nyeri yang humanis.
- Dukungan Psikososial: Menjadi jembatan komunikasi bagi keluarga yang menghadapi fase kritis.
Integrasi kurikulum ini memastikan bahwa lulusan vokasi tidak hanya cakap secara teknis (hard skills), tetapi juga memiliki empati mendalam (soft skills) sebagai garda terdepan pemberi asuhan.
Peran Strategis AIPViKI
Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Vokasi Keperawatan Indonesia (AIPViKI) memegang peranan krusial dalam menjamin standar mutu pendidikan ini. Sebagai wadah yang menaungi institusi vokasi di seluruh Indonesia, AIPViKI berperan dalam:
- Standardisasi Modul: Memastikan kurikulum keperawatan anak diperbarui sesuai dengan perkembangan teknologi medis terbaru.
- Peningkatan Kapasitas Dosen: Melalui pelatihan berkelanjutan agar pengajar mampu mentransfer ilmu yang relevan dengan kebutuhan klinis terkini.
- Advokasi dan Jejaring: Membangun kemitraan dengan rumah sakit pusat kanker untuk memfasilitasi praktik lapangan yang komprehensif bagi mahasiswa.
Melalui sinergi ini, tantangan berupa keterbatasan akses dan tenaga terampil di daerah dapat diubah menjadi perubahan nyata dalam angka harapan hidup anak-anak penderita kanker di Indonesia.
Peringatan International Childhood Cancer Day 2026 dengan tema “Demonstrating Impact” adalah momentum bagi kita di lingkungan vokasi keperawatan untuk merefleksikan sejauh mana dampak yang telah kita berikan. Ketua Umum AIPVIKI Ibu Dr. Pramita Iriana, S.Kp., M.Biomed menegaskan bahwa “Peringatan ICCD 2026 adalah momentum bagi kita semua, khususnya keluarga besar pendidikan vokasi keperawatan, untuk merefleksikan peran kita dalam ekosistem kesehatan. Perawat vokasi adalah tulang punggung pelayanan di rumah sakit; merekalah yang bersentuhan langsung dengan pasien anak setiap waktu.
Melalui penguatan kurikulum dan pengabdian masyarakat yang terstruktur, AIPViKI berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki empati mendalam. Mari kita jadikan tantangan beban penyakit ini sebagai penggerak perubahan (change) demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. Setiap tindakan kecil dalam asuhan keperawatan kita, adalah dampak nyata bagi kesembuhan mereka.”
Bidang Humas PP AIPViKI
